Skip to main content

Hukum Adzan Pertama Untuk Sholat Jum’at

بسم الله الرحمن الرحيم

Abu Unaisah Jabir : Hukum Adzan Pertama Untuk Sholat Jum’at.

Adzan pertama untuk sholat Jum’at adalah disyariatkan, ini merupakan pendapat mayoritas ulama dari madzhab Hanafi [ Al Kasani dalam Badai’ Ash Shanai’ jilid I halaman 152 ] Maliki [ Al Adawi dalam Hasyiyahnya jilid I halaman 467 ] dan Hambali [ Al Bahuti dalam Kasyaf Al Qina’ jilid II halaman 42 ]. Menjadi amalan kaum muslimin secara turun temurun semenjak masa kekhalifahan Utsman bin Affan, sehingga disinyalir sebagai hal yang disepakati oleh umat.

Syamsuddin Ibnu Qudamah al Hambali mengatakan : “ Adzan pertama diawal waktu sholat Jum’at adalah sunnah, diawali kesunnahannya oleh Utsman bin Affan dan diamalkan secara turun temurun oleh umat sesudahnya. Adzan pertama ini berfungsi sebagai pemberitahuan masuknya waktu sholat Jum’at dan adzan kedua berfungsi sebagai pemberitahuan dimulainya khutbah ”. [ Asy Syarhu Al Kabir jilid II halaman 188 ].

Badruddin Al Aini mengatakan : “ Pensyariatannya adalah berdasar kepada ijtihad Utsman bin Affan yang disetujui oleh seluruh Sahabat, tanpa ada satupun yang mengingkarinya. Sehingga jadilah hasil ijtihad beliau ini sebagai ijma’ sukuti ”. [ Umdatul Qori jilid VI halaman 211 ]

Dalil disyariatkanya diantaranya adalah :

  1. Hadits Irbadh bin Sariyah riwayat Ahmad, Abu Dawud, At Tirmidzi dan Ibnu Majah dengan redaksi :

(( … وعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ … ))

Artinya : (( … Dan kalian wajib mengikuti sunnahku serta sunnah para khalifah rasyidin sesudahku. Pegangilah dan gigitlah erat – erat dengan geraham kalian … )). [ At Tirmidzi dalam Sunannya no. 2676 mengatakan : Hasan Shahih ].

Sisi pendalilannya bahwa Ustman bin Affan adalah salah satu dari para khalifah rasyidin atas kesepakatan umat, maka hasil ijtihad beliau termasuk sunnah yang kita diperintahkan untuk mengikutinya. Wallahu a’lam

  1. Hadits As Saib bin Yazid riwayat Al Bukhari dalam Shahihnya no. 912 mengisahkan adzan Jum’at dimasa Rasulullah, Abu Bakr dan Umar serta ijtihad Ustman mengumandangkan adzan pertama. Beliau berkata :

(( … فثبت الأمر على ذلك )) .

Artinya : (( … maka amalan tersebut dipertahankan )).

Sisi pendalilannya adalah persetujuan seluruh Sahabat untuk mempertahankan amalan tersebut tanpa ada pengingkaran. Wallahu a’lam.

Faidah : Adzan pertama ini tidaklah menjadikan haramnya transaksi jual beli yang Allah isyaratkan pelarangannya dalam Surat Al Jumu’ah ayat 9.

Adapun hukum keabsahan transaksi jual beli sesudah adzan kedua dikumandangkan, yaitu adzan sesudah khatib naik mimbar, maka diperselisihkan dikalangan ulama.

An Nawawi mengatakan : “ … jika melakukan transaksi jual beli sesudah adzan kedua ; madzhab kami (ed. Syafiiyah ) berpendapat sah, demikian juga menurut madzhab Abu Hanifah dan pengikutnya. Sedangkan Ahmad dan Dawud dalam salah satu riwayat berpendapat tidak sah ”. [ Al Majmu’ jilid IV halaman 501 ]

Secara pribadi kami memilih mengikuti pendapat Ahmad yang menyatakan tidak sah berdasar sejumlah alasan diantaranya :

  1. Tekstual ayat ke 9 dari Surat Al Jumu’ah, dimana kaidah umum menyatakan bahwa larangan memberikan hukum tidak sah. Sebagaimana hal ini ditegaskan oleh Ibnu Rajab Al Hambali dalam Syarh Bukhari jilid V halaman 434.
  2. Saddu dzari’ah yaitu karena transaksi ini akan menyibukannya pelaku transaksi dari sholat Jum’at sehingga menyebabkannya ketinggalan sholat. Sebagaimana hal ini diisyaratkan oleh Al Bahuti dalam Kasyaf Al Qina’ jilid III halaman 180.
  3. Dikiyaskan dengan ketidak sahan akad nikah bagi orang ihram, dengan kesamaan dilarang karena untuk kepentingan ibadah. Sebagaimana kiyas ini diisyaratkan oleh Burhanuddin Ibnu Muflih dalam Al Mubdi’ jilid IV halaman 41.

والله أعلم وصلى الله على محمد وآله وسلم والحمد لله .

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *